Sabtu, 24 April 2021

Dibalik Cemburunya Ye Ji

Nyai Seo Ye Ji jadi trending topik di jagat Twitter Indonesia beberapa waktu lalu. Kok bisa? Ternyata aktris ini dibongkar Dispatch (paparazinya seleb Korea) sebagai pacar dari aktor Kim Hyun Jung yang posesif. Ye Ji dituduh sebagai dalang dari kasus mundurnya Kim Jung Hyun. Kemudian kasus berkembang menjadi kasus bullying. Seorang mantan staf Seo Ye Ji mengatakan bahwa dirinya sering diperlakukan buruk oleh sang aktris. Isu bullying ini memang sedang ramai di Korea Selatan.

Awal kasus Seo Ye Ji ini memang bermula dari rumor kencan Kim Jung Hyun. Diberitakan bahwa Kim telah berkencan dengan lawan mainnya Seo Ji Hye di drama Crash Landing On You. Namun dibantah oleh agensi. Diberitakan kemudian bahwa Kim akan berpindah ke agensi Seo Ji Hye. Lalu Agensi Kim Jung Hyun mengkonfirmasi bahwa Kim bermasalah dengan kontrak kerjanya. Kim masih memiliki kontrak karna ada kasus di tahun 2018. Pada tahun itu, Kim seharusnya bermain drama Time. Namun akibat kesehatan mental, Kim harus mengundurkan diri dari drama tersebut. Perubahan peran ini membuat rumah perusahaan drama Time menjadi rugi. Lalu Agensi Kim berhasil meyakinkan rumah perusahaan itu bahwa Kim sedang bermasalah dengan kesehatan mentalnya. Mundurnya Kim dari produksi drama Time, membuat Kim masih memiliki sisa kontrak dengan agensinya.

Tak lama setelah berita kontrak tersebut, Dispatch kemudian memberitakan bahwa masalah mundurnya Kim pada drama Time adalah karna Kim dilarang oleh pacarnya, Seo Ye Ji untuk beradegan mesra. Seo Ye Ji diberitakan sebagai pacar yang posesif dan suka mengontrol. Kemudian Dispatch membeberkan cuplikan chat antara Seo Ye Ji dan Kim Jung Hyun. Dalam chat itu, nampak Seo Ye Ji melarang Kim untuk tidak menyentuh lawan mainnya. Diberitakan juga bahwa karena Ye Ji lah, berapa adegan mesra di drama Time dihapus.

Pada tahun 2018, Kim Jung Hyun bersikap dingin kepada aktris lawan mainnya. Saat konferensi pers, lawan mainnya, Seohyun, meminta untuk bergandengan tangan. Kim menolak. Bahkan Kim tidak mau bergandengan tangan saat pemotretan untuk promosi drama. Akibatnya banyak netizen yang mengecam Kim Jung Hyun. Kim dituduh tidak profesional. Kim dianggap tidak bersikap sopan terhadap lawan mainnya. Ternyata semua itu karena Kim dilarang tampil mesra oleh pacarnya saat itu, Seo Ye Ji.

Karena masalah ini, Kim Jung Hyun sampai dibully online. Beberapa fans dari lawan mainnya yaitu Seo Hyun sampai mengajukan petisi. Bahkan muncul petisi untuk mempensiunkan Kim Jung Hyun. Kim dituduh tidak profesional dalam bekerja. Standar kerja dalam dunia perfilman memang menuntut aktor agar terlihat mesra terhadap lawan main. Kim dianggap tidak bisa membedakan antara kehidupan pribadi dengan kehidupannya sebagai aktor profesional.

Akibat pemberitaan Dispatch Aktris Seo Ye Ji pun dicap sebagai pacar posesif dan suka mengontrol. Agensi Seo Ye Ji, kemudian mengeluarkan klarifikasi. Namun beberapa kalangan tidak puas akan klarifikasi ini. Dalam klarifikasi ini, agensi tidak ingin Seo Ye Ji disangkutpautkan dengan kasus mundurnya Kim di drama Time. Itu adalah masalah aktor Kim yang tidak profesional.

Karena skandal ini, karir Kim Jung Hyun dan Seo Ye Ji diramalkan akan tamat. Berat memang menjadi publik figur di Korea. Harus dituntut serba sempurna. Itu karena publik figur dianggap sebagai panutan. Dan yang namanya panutan tidak boleh ada cacat. (Sayang sekali orang Korea sedikit yang mengenal Rasulullah). 

Saat berita ini muncul, yang terlintas di pikiran cuma hah? Gitu amat ya orang Korea. Ya memang budaya serta pola pikir mereka berbeda. Ga habis pikir dengan beberapa komentar netizen Korea yang menyalahkan Kim yang tidak mau beradegan mesra karna pacarnya. Netizen juga mengatakan kalau sikap cemburu Ye Ji sebagai sikap yang tidak profesional dan kekanak-kanakan. Bahkan netizen Indonesia yang menggemari drama Korea pun akan berpendapat yang sama. Dalam dunia hiburan, seorang aktor dan aktris yang bermain dalam satu film harus tampil mesra. Itu adalah hal yang diwajarkan. Itu tuntutan film katanya.

Saat saya baca komentar netizen yang mengatakan Seo Ye Ji tidak profesional dengan melarang pacarnya, ada rasa yang mengganjal. Well sebagai muslim emang kayaknya jauh banget ya perbedaan prinsip kita. Dan memang lucu sekali standar perbuatan orang-orang sekarang. Seperti ada perbedaan antara publik figur (aktor) dengan masyarakat biasa. Jika aktor itu harus dituntut mesra. Itu disebut profesional. Sampai saya bertanya-tanya siapa sih yang bisa menentukan standar sikap seseorang? Bukankah aktor juga manusia? Di manakah semua standar bias ini bermula? Misalkan sebagai seorang yang biasa saja (bukan aktor), jika pasangan kita berpegangan tangan mesra dengan orang lain, bukan seharusnya wajar jika kita cemburu? Kenapa harus ada perbedaan antara aktor atau bukan? Kenapa kalau aktor yang tidak bisa membedakan antara kehidupan pribadi disebut tidak profesional? Lucu kan? Siapa sih diantara manusia yang boleh menentukan apa yang boleh dan tidak? Tidak ada yang bisa dijadikan standar umum kan. Antara satu manusia dan manusia lain tentu akan berbeda pola pemikirannya.

Biasanya manusia menggolongkan apa yang dicintainya dan disukainya sebagai baik. Begitu pula dengan apa yang dibencinya dicap sebagai hal yang buruk. Semua itu didasarkan dari manfaat dan kerugian yang didapat. Padahal sebenarnya perbuatan yang dilakukan manusia tidak ada mempunyai nilai dilihat dari perbuatannya sendiri. Misalnya makan. Apa nilainya? Apa makan itu baik? Biasanya orang yang mendapat manfaat akan berkata makan itu baik. Lalu jika orang itu ingin kurus maka dia akan mengatakan makan itu buruk.
Jadi pada dasarnya makan itu tidak ada nilainya kan? Yang menjadikan baik atau buruknya perbuatan itu adalah unsur di luar perbuatan.

Lalu siapa yang boleh menentukan baik-buruknya suatu perbuatan? Dalam hal ini baik dan buruknya perbuatan dinilai dari unsur-unsur yang mendorong manusia untuk melakukan perbuatan. Selain itu juga karena tujuan yang hendak dicapai dari perbuatan tersebut.

Nah maka itu penting untuk mencari unsur apa yang mampu mendorong manusia melakukan suatu perbuatan. Di samping itu juga mencari tujuan yang hendak dicapainya. Jadi kita akan memahami kapan suatu perbuatan dikatakan baik dan kapan dikatakan buruk.

Sebagai seorang muslim, landasan melakukan suatu perbuatan haruslah berdasarkan iman kepada Allah. Kemudian landasan selanjutnya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan yang membawa syariat Islam. Syariat inilah yang  menjelaskan tentang perintah-perintah dan larangan Allah. Syariat inilah yang akan mengatur hubungan kita dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan juga dengan manusia yang lainnya. Seorang muslim yang meyakini hal ini akan menyesuaikan perbuatannya dengan perintah dan larangan Allah. Inilah yang mendorong seorang muslim melakukan suatu perbuatan. Kemudian seorang muslim juga akan menyesuaikan tujuan yang hendak dicapainya dengan ridho dari Allah SWT. Setiap perbuatan yang berpotensi untuk mendatangkan murka Allah tentu akan dijauhi. Itu semua karena menyalahi perintah dan melanggar laranganNya. Amal perbuatan ini akan dikategorikan sebagai amal buruk. Begitu pula sebaliknya. 

Jadi dalam Islam, seorang muslim mengatakan predikat sesuatu itu baik karena perbuatan itu diridhai oleh Allah. Sedangkan buruk sebagai perbuatan yang dimurkai oleh Allah. Islam telah menentukan siapa yang boleh menentukan standar. Semua standar dikembalikan kepada Sang Khaliq. Hanya Allah sajalah sebagai Asy-Syar'i (Pembuat Hukum) yang boleh menentukan predikat baik-buruknya suatu perbuatan. Jadi berpegangan tangan/beradegan mesra/ memandang yang bukan pasangan sah adalah buruk di mata Allah.

Demikian unek-unek saya kali ini. Monmaap kalau panjang x lebar. Abis emessh dengan tingkah polah orang-orang yang aimless di akhirat ini.

Wallahu alam bi shawab. 

Kamis, 27 Agustus 2020

Mispersepsi Diskusi JKDN

 Mispersepsi Diskusi JKDN


Oleh Wendy Lastwati


Notifikasi Telegram kemarin menyala. Channel Jejak Khilafah di Nusantara memberikan pengingat bahwa malam tanggal 27 Agustus 2020 akan ada diskusi. TvOne akan menyiarkan diskusi tentang topik yang sedang hangat diperbincangkan. Acara akan berlangsung pada pukul 19.00. Bersama narasumber sang sutradara Jejak Khilafah di Nusantara, Nicko Pandawa, ketua PBNU, Prof. Azyurmardi Azra, dan Ustazd Ismail Yusanto. 


Dari perbincangan tersebut terdapat mispersepsi tentang khilafah. Pertama Prof. Azyurmardi Azra menyebutkan bahwa Turki Ustmani dan Abbasiyah bukanlah kekhalifahan. Yang disebut kekhilafahan hanyalah Khulafaur Rasyidin. Kemudian Prof. Azyurmardi hanya menyebut Abu Bakar dan Umar sajalah yang benar-benar khalifah.


Apakah demikian adanya? Kalau dilihat fakta sejarahnya, ternyata Kekhilafahan itu dimulai dari Khalifah Abu Bakar sampai Kekhalifahan Turki Ustmani. Karna memang Khalifah berarti pengganti. Dari apa? Pengganti dari kepemimpinan Rasulullah untuk menerapkan hukum-hukum Islam. Semenjak Rasulullah wafat, para sahabat begitu sibuk mencari pengganti Rasulullah. Bahkan kita mengenal hukum syara tentang boleh dimundurkan penguburan mayat dari peristiwa ini. Hal itu menunjukkan bahwa begitu pentingnya memilih sosok pemimpin dalam Islam. Bahkan sampai penguburan jenazah Rasulullah pun harus dimundurkan.


Setelah Khalifah Ali bin Abi Thalib berakhir, memang kekhilafahan bukan lagi menjadi kekhalifahan ala minhajin nubuwah. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Namun penulisan sejarah adalah tergantung sudut pandang seseorang. Dari Muawiyah, mulailah disebut sebagai Bani Umayyah atau disebut juga dinasti. Memang dalam masa kekhalifahan Umayyah, para Khalifah yang diangkat adalah anak keturunannya. 


Begitupun dengan Kekhalifahan Abbasiyah. Proses pengangkatannya berbeda dengan proses pengangkatan seorang Raja. Seorang Khalifah diangkat melalui proses baiat. Inilah yang membedakan sistem kekhalifahan dan kerajaan. Hal ini berlangsung sampai masa kekhalifahan Turki Ustmani berakhir. Sistem Kekhalifahan dihapuskan oleh Pemerintahan Mustafa Kemal parlemen Turki. Setelahnya kita mengenal bahwa Turki berganti menjadi Republik. Pemimpinnya pun dikenal sebagai Presiden. Bukan seorang Khalifah. 


Mispersepsi yang lainnya adalah penyebutan Khalifah. Gelar yang digunakan untuk menyebut kepada pemimpin Islam bisa menggunakan gelar Khalifah, Imam, atau Amir al-Mu'minin. Kaum Muslimin diperbolehkan memberi gelar asalkan maknanya sesuai dengan fakta dan tidak bertentangan dengan hukum syara. Contohnya Sultan al-Mukminin. Maka ketika disebut dengan Sultan itu berarti memang kekuasaan pemerintahan Islam. Sistem pemerintahan ini memang khas karena diatur oleh hukum syara. Peraturannya berlandaskan Al-Qur'an dan Sunah Nabi. 


Berbeda dengan pendapat yang disebut oleh Ketua PBNU. Mengatakan bahwa Presiden adalah pengganti Rasulullah adalah suatu bentuk pengaburan fakta. Sistem presidensial sangat berbeda dengan sistem pemerintahan Islam. Sistem Republik Presidential merupakan sistem khas dari sistem demokrasi berbeda dengan sistem Khilafah Islam. 


Sistem presidensial sangatlah berbeda dengan sistem khilafah. Dalam sistem presidensial, kekuasaan presiden diangkat oleh demokrasi rakyat. Demokrasi inilah yang berbeda dengan sistem Islam. Dalam demokrasi, mengatur dan membuat hukum ada pada dewan perwakilan rakyat. Sedangkan dalam Islam, hak membuat hukum hanya diberikan kepada Syar'i(Pembuat Hukum/Allah). 


Mengklaim bahwa negara demokrasi adalah sama dengan Khilafah merupakan tindakan yang gegabah. Keduanya sangatlah berbeda baik dari asas dan pelaksanaannya.

Minggu, 03 Mei 2020

Zeromind

 


Oleh Wendy Lastwati


Saya suka angka nol. Dulu bahkan pernah bercita-cita punya anak laki-laki yang bernama Zero. Angka nol itu adalah angka yang keren. Berapapun angka yang dikalikan dengan angka nol maka hasilnya adalah nol. Waktu itu saya pernah mendengar atau membaca di mana ya lupa tentang tulisan angka nol. Isinya tentang konsep bagaimana mengenolkan pikiran. Pikiran seseorang yang tidak positif dan tidak juga negatif. Itu disebut titik nol / zeromind. 


Zeromind atau dalam Bahasa Indonesia adalah titik nol adalah suatu konsep kondisi saat kita menjadi sempurna dan dapat mendengar suara Tuhan, mendapat suatu pencerahan. Zeromind bisa diartikan sebagai mengikhlaskan, melepaskan, dengan berpasrah pada kekuatan yang lebih tinggi yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Diantara semua konsep tentang pikiran yang pernah saya baca, konsep zeromind inilah yang paling bisa saya terima. Konsep ini saya pelajari lebih banyak dari suatu komunitas jiwa sehat yang ada di Indonesia. 


Seringkah kita membaca tentang konsep berpikir positif? Kalau saya iya. Sudah dipraktekkan juga. Namun kadang saya gagal dan malah lebih terluka. Kemudian saya mengenal konsep double negatif. Jadi menurut sang konseptor, kita perlu dua kali berpikir negatif. Rupanya teori ini memasukkan unsur logika matematik. Konsep itu mentah karena saya mungkin tidak cocok dan belum paham sepenuhnya. Sampai akhirnya bertemu dengan konsep zeromind ini dan merasa paling cocok. 


Konsep zeromind ini sebenarnya melengkapi kedua konsep berpikir tadi. Jika kita berada pada suatu keadaan yang membuat pikiran menjadi sangat negatif, misalnya sekarang ketika wabah covid-19 ini pertama kali muncul. Kita akan semakin terus tertarik mengetahuinya. Namun berita tentang corona ini lebih didominasi oleh berita negatif. Pikiran kita pun menerima dengan negatif. Kita akan menarik ke posisi negatif. Maka kita perlu memasukkan dalam pikiran kita tentang sesuatu/berita/informasi yang positif. Supaya seimbang tetap dalam posisi nol. 


Bagaimana jika tak terlalu cemas, bahkan menganggap biasa saja wabah ini. Itu juga sebaiknya tidak dilakukan. Melihat berita kebaikan saja dan menutup sama sekali akses atau mengabaikan fakta bahwa ada wabah dan bersikap masa bodoh terhadap wabah ini juga salah. Faktanya memang wabah ini sedang terjadi di belahan bumi manapun. Sehingga perlu juga untuk mengantisipasi keadaan terburuk. Skenario terburuk. Dalam istilahnya, prepare for the worst, hope for the best. 


Konsep zeromind ini bisa sering kita alami pada hal lain. Misalkan kita sedang menginginkan sesuatu. Ketika kita sangat ingin itu, biasanya harapan itu malah tak kunjung sampai. Sedangkan jika kita biasa saja dalam arti memasrahkan dan tidak terlalu memaksakan justru harapan itu malah terwujud. Begitulah zeromind bekerja. Pikiran kita dapat menarik sesuatu yang kita inginkan/takutkan. Ketika malah dipikirkan terus akan celaka, malah benar-benar celaka. Maka tariklah kebaikan saja. Supaya yang terjadi adalah kebaikan. 


Konsep zeromind ini ya mungkin kalau dalam Islam, adalah bagaimana manusia senantiasa mengingat Allah dan memasrahkan diri kepada Allah. Allah berfirman, "Hanya dengan mengingat Aku maka hati menjadi tenang.” (QS. 13 : 28).

Dan dalam surat Ath-Thalaq ayat tiga, “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. [Ath-Thalaq/65 : 3]


Islam juga menerangkan bagaimana seorang muslim berdoa kepada Allah pun kita diharuskan berada pada kondisi harap dan cemas. Semacam syarat agar doa dikabulkan. Allah berfirman,


إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ


“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan *harap dan cemas.* Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90). 


Menurut Ats Tsauri, dari Tafsir Al Wajiz Wahbah Zuhaili yang dimaksud dengan harap dan cemas adalah, bahwa mereka *mengharapkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi-Nya dan takut terhadap azab di sisi-Nya.*


Mengharap kenikmatan itu bisa kita masukkan ke dalam pikiran positif dan takut terhadap azab itu dalam pikiran negatif sehingga hasilnya posisi doa itu akan berada di posisi nol. Kemudian pada posisi nol itu dia merasakan ikhlas dan bersyukur kepada Allah.


Pada suatu ceramah yang saya dengar, seseorang yang ingin doanya sangat dikabulkan harus menempatkan doanya itu pada suatu titik pertengahan. Bayangkan jika di suatu ujung tali itu adalah takut sedang di ujung lain adalah harap. Pada pertengahannyalah kita harus menempatkan rasa kita pada doa tersebut. Misalkan kita ingin anak kita menjadi shalih-shalihah. Jangan terlalu berharap sekali atau menempatkannya pada ujung harap. Sehingga kita tidak takut bahwa ada peluang anak kita itu akan membantah kita sekali. Atau justru kita menempatkannya pada rasa sangat takut mungkin karena melihat anak itu lebih sering membantah. Sehingga menempatkan doa tersebut pada ujung rasa takut maka anak itu tidak mungkin jadi anak shalih. Tempatkanlah pada posisi di tengah. Kita tetap mengharapkan kebaikan. Anak menjadi shalih-shalihah. Namun harus ada rasa cemas anak menjadi tidak shalih melihat berbagai kondisi. Ketika kita menempatkan harap dan cemas pada posisinya yang seimbang maka posisi itu menjadi nol dan itulah posisi seorang hamba terhadap Penciptanya yang seharusnya. 


Jadi proses mengikhlaskan itu harus disertai harap dan cemas (positif dan negatif). Saat proses itu terjadi mengikhlaskan dan bersyukur serta yakin kepada Allah sambil tetap ikhtiar dan berusaha dengan menyegerakan melakukan kebaikan. Maka kebaikan ada padanya. Dan Allah akan mengabulkan doanya. Insya Allah.


Begitulah menurut saya mengapa konsep zeromind ini sangat pas dengan penjelasan Islam mengenai konsep berserah diri pada Allah. Posisi yang seimbang antara positif dan negatif. Posisi nol.

Senin, 15 Juli 2019

Kali Pertama Thoriq TK

 Hari Pertama Sekolah 📖


Hari ini Thoriq (6 tahun) mulai bersekolah. 

Dua tahun yang lalu sempat dimasukkan ke TK A. Sayang waktu itu habis melahirkan. Tak sempat diantarkan oleh Bunda. Thoriq jadi mogok sekolah. Temannya sedikit katanya jadi ga mau sekolah. Setahun yang lalu juga masih ga mau sekolah katanya aku masih kecil. 


Tahun ini mau ga mau udah dimasukkan sekolah aja deh. Bunda ga memilih homeschooling karna ga mampu. Jadi masuk ke TK aja. Bunda sengaja ga memilih les baca yang sangat hype banget di kalangan ibu-ibu. Bunda punya pertimbangan sendiri dan Ayah selalu mendukung. Yang penting sekolah. 😀


Tadinya masih sempet galau. Mungkin karna belum pernah punya kegiatan. Akhirnya dipilihlah RA B yang deket rumah. Supaya gampang anterinnya. (Alasan yang simpel).


Persiapan masuk TK udah heboh bener deh. Mulai dari beli sepatu, kaus kaki, dan alat tulis. Heboh mengalahkan Sang Kakak. Sebenarnya ini strategi supaya semangat sekolah saja kok. 


Masuk sekolah RA mulai jam 7.30. Jadi Bunda bisa antar Kakak Sofi dulu. Thoriq udah siap sekolah jadi ga ada drama ga mandi pagi. Disuruh mandi pagi setelah sarapan langsung ok.  Jalan ke sekolah dengan riang. 


Sampai di sekolah juga senang dan sabar menunggu arahan Bu Guru. Bunda ga nunggu di dalam kelas. Hanya melihat dari balik jendela. 


Saat jam istirahat Thoriq keluar, Bunda wawancara dulu,


Bunda : gimana sekolahnya? Seneng ga?

Thoriq : seneng banget (sambil sumringah) seru sekolahnya. Besok bawa bekal nasi ya Bun. 

Bunda : Ok. 


Anak siap sekolah Bunda senang. 😁😁💕💕💓💗


Gambar : Thoriq dari Balik Jendela